Tri Wahyuni – Just another Diponegoro Student Blogs weblog

desain studi kasus pada penelitian (tugas Epidemiologi P2M&NM)

06.11.2010 (7:34 am) – Filed under: Uncategorized

Kasus

Suatu peneliti ingin mengetahui beberapa faktor yang mempengaruhi terjadinya penyakit thypoid pada anak-anak. Beberapa faktor yang diduga sebagai faktor resiko terjadinya penyakit thypoid adalah kebiasaan jajan disekolah dan kebiasaan cuci tangan sebelum makan.

Beberapa desain penelitian yang dapat digunakan pada penelitian tersebut :

a.    Case control

Case control adalah suatu penelitian (survey) analitik yang menyangkut bagaimana faktor risiko dipelajari dengan menggunakan pendekatan “retrospective”.

Desain case control dimulai dengan memilih kasus (berpenyakit) dan kontrol (tidak berpenyakit). Kasus dan control biasanya dipilih dari populasi suber yang sama (Rothman, 2002).

Pada populasi kasus ini dibagi menjadi 2 yaitu jajan sembarangan & tidak cuci tangan sebelum makan (sebagai kelompok terpapar) dan tidak jajan sembarangan & cuci tangan sebelum makan (sebagai kelompok tidak terpapar). Sedangkan untuk populasi control juga dibagi menjadi 2 yaitu yaitu jajan sembarangan & tidak cuci tangan sebelum makan (sebagai kelompok terpapar) dan tidak jajan sembarangan & cuci tangan sebelum makan (sebagai kelompok terpapar). Riwayat paparan dalam penelitian kasus control dapat diketahui dari register medik atau berdasarkan wawancara dengan responden penelitian.

Pada Case control/”retrospektif”, efek (penyakit atau status kesehatan) diidentifikasi pada saat ini, kemudian factor resiko diidentifikasi adanya atau terjadinya pada waktu yang lalu.

Dalam kasus ini desain case control adalah sebagai berikut :

b.    Cohort

Cohort atau prospektif adalah suatu penelitian survey (non eksperimen) yang paling baik dalam mengkaji hubungan antara faktor risiko dengan efek (penyakit). Desain cohort merupakan penelitian yang digunakan untuk mempelajari dinamika korelasi antara faktor risiko dengan efek melalui pendekatan longitudinal ke depan atau prospektif.

Desain cohort merupakan desain studi observasional yang mempelajari hubungan antara paparan dan penyakit, dengan memilih dua (atau lebih) kelompok-kelompok studi berdasarkan perbedaan status paparan, kemudian mengikuti sepanjang suatu periode waktu untuk melihat berapa banyak subyek dalam masing-masing kelompok mengalami penyakit atau kesudahan tertentu lainnya.

Penelitian ini bersifat ke depan (forward looking) artinya penelitian dimulai dari variabel penyebab atau fakto risiko kemudian diikuti akibatnyapada waktu yang akan datang.

Dalam kasus ini populasi non kasus dibagi menjadi 2 yaitu jajan sembarangan & tidak cuci tangan (sebagai kelompok terpapar, E+) dan tidak jajan sembarangan & cuci tangan (sebagai kelompok tidak terpapar, E-). Pengamatan cohort dilakukan secara kontinu, sehingga diikuti denga follow up. Pada periode follow up ini kelompok terpapar dibagi menjadi 2 yaitu terpapar & sakit thypoid (E+D+) dan terpapar & tidak sakit thypoid (E+D-). Untuk kelompok tidak terpapar juga dibagi menjadi 2 kelompok yaitu tidak terpapar & sakit thypoid (E-D+) dan tidak terpapar-tidak sakit thypoid (E-D-).

• Insidence kelompok terpapar (Po) = (E+D+) / (E+D+) + (E+D-)

• Insidence kelompok tidak terpapar (P1) = (E-D+) / (E-D+) + (E-D-)

• Relative Risk (RR) = Po / P1

Dalam kasus ini desain cohort adalah sebagai berikut :

c.    Cross sectional

Cross sectional adalah studi epidemiologi yang mempelajari prevalensi, distribusi, maupun hubungan penyakit dengan paparan (factor penelitian) dengan cara mengamati status paparan, penyakit, atau karakteristik terkait kesehatan lainnya, secara serentak pada individu-individu dri suatu populasi pada satu saat.

Desain cross sectional merupakan suatu penelitian dimana variabel-variabel yang termasuk faktor risiko dan variabel-variabel yang termasuk efek diobservasi sekaligus pada waktu yang sama.

Studi cross sectional disebut sebagai studi prevalensi atau survey, merupakan studi yang sederhana yang sering dilakukan.

Pada kasus diatas, dalam studi ini populasi dikelompokan lagi dengan cara random, kemudian dibagi lagi menjadi empat kelompok yaitu jajan sembarangan & tidak cuci tangan (E+D+), jajan sembarangan & cuci tangan sebelum makan (E+D-), tidak jajan sembarangan & tidak cuci tangan (E-D+), dan tidak jajan sembarangan & cuci tangan sebelum makan (E-D-). Maka dapat diketahui bahwa sakit thypoid ditunjukan dengan E+D+ dan E-D+. Untuk yang tidak sakit thypoid ditunjukan dengan E+D- dan E-D-.

• prevalence kelompok terpapar (Po) dapat dicari dari = (E+D+) / (E+D+) + (E+D-)

• Prevalence kelompok tidak terpapar (P1) dapat dicari dari = (E-D+) / (E-D+) + (E-D-)

• Rasio Prevalence = Po / P1

Desain studi cross sectional pada kasus di atas :

Sumber :

Chandra, Budiman Dr.2008.Metodologi Penelitian Kesehatan.Jakarta: Penerbit buku Kedokteran EGC

Notoatmodjo, dr. Soekidjo. 2005. Metodologi Penelitian Kesehatan. Jakarta: Rineka Cipta

Murti, Bhisma. 2003. Prinsip dan Metode Riset Epidemiologi. Yogyakarta: UGM Press

5 Responses to “desain studi kasus pada penelitian (tugas Epidemiologi P2M&NM)”

  1. bet365 Says:

    hi I was fortunate to come cross your Topics in bing
    your subject is impressive
    I learn much in your Topics really thank your very much
    btw the theme of you site is really wonderful
    where can find it

  2. bet365 Says:

    how are you I was fortunate to search your blog in yahoo
    your topic is terrific
    I learn a lot in your website really thank your very much
    btw the theme of you blog is really marvelous
    where can find it

  3. rachat credit Says:

    Man, really want to know how can you be that smart, lol…great read, thanks.

  4. herry Says:

    haduuuu, tugas kuliah yah jeng…
    semangad yah

    salam
    http://imherry.blogdetik.com

  5. ayu-tewe Says:

    iya neh,,,
    hehe..
    lumayan juga,,jd ngerti tentang “blog”

Leave a Comment
(All comments are moderated before they appear on the site.)

Comments links could be nofollow free.


Improve the web with Nofollow Reciprocity.